Sambil santai-santai dan facebook-an, hari ini berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda sudah berminggu-minggu. Pertama membuat rekapitulasi penjualan kami sejak awal September. Setelah masuk data-datanya ke komputer dan melihat hasil akhir dan rata-rata, rasanya pengen nepuk dada ala king-kong. Hanya karena aku bukan kingkong dan pekerjaan ini memang seharusnya di kerjakan, impian menjadi king-kong di tunda dulu. Terus aku punya beberapa buku yang diniatkan untuk disampul tapi tak kunjung di beri sampul. Sambil cekikan chatting dengan teman yang sdg gak bisa tidur di AS, minimal 2 buku ke sampul juga. Masih ada 15 lagi sih, tapi lumyan dari pada tidak sama sekali. Sebelumnya aku sudah memasukan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Teknologi memungkinkan tidak perlu membilas cucian dengan mengucek-ngucek yang menghabiskan tenaga. Sekali masuk, giling, bilas dan cucian harum pun siap naik ke tiang jemuran. Sore ini duduk kembali anteng duduk di muka kompu setiaku. Pengennya menulis sesuatu, mengeluarkan unek-unek yang beberapa hari ini mengganjal dan menimbulkan perasaan tidak enak, tapi aku perlu berpikir panjang untuk melakukannya. Seperti kata temanku, manusia melihat dunia ini melalui sejarah yang telah di tempuhnya.Sejarah hidup orang itu berbeda-beda. Jadi mustahil mengharapkan cara pandang sama walau yang kita bicarakan adalah benda yang sama. Kesimpulan : kalau idenya ingin menguap biar lah demikian. Mungkin itu lebih baik. Tapi satu yang pasti, kebodohan itu amat menyebalkan! Seperti yang aku lakukan hari ini, membuang begitu saja sampah-sampah kertas yang kuanggap mengotori meja tanpa menelitinya satu-persatu. Setelah sampahnya diangkut beberapa jam yang lalu, baru ingat bahwa ada satu PO yang mestinya jadwal kirim besok tidak tampak lagi batang hidungnya entah dimana. Sambil mengomeli diri sendiri lalu kubongkar-bongkar map-map yang secara logika mustahil PO itu terselip disana.Namanya juga orang bodoh sedang kalap, apa saja bisa terjadi kan? Akhirnya PO itu memang tidak bersua. Pasti sudah hancur lebur bersama ratusan kilo sampah lain di luaran sana. Besok Jadwal pengiriman ke perusahaan itu terpaksa tidak bisa di lakukan pada rit pertama. Aku harus mengontak bagian purchasing perusahaan itu terlebih dahulu agar mengirim copy PO melalui fax. Dan itu artinya ada yang akan ngomel-ngomel karena jadwal yang sudah diaturnya berantakan. Yah...Mau gimana lagi... --Evi
Akhir-akhir ini merasa ada yang berubah, merasa menerima kelimpahan energi. Seperti gadis remaja, diam mendatangkan gejala tubuh ngilu dan bawaannya ingin bobo saja. Mungkin kah sudah masuk kategori kecanduan oleh raga? Sebab ini tubuh merasakan kenikmatan luar biasa saat meregang dan melakukan pergerakan sistematis dan berpola yang disebut choreography itu? Tidak tahu lah! Yang jelas, untung sport center cuma punya kelas kali per hari. Kalu lebih dari itu mungkin akan kumasuki semua hehehe... Awalnya entah dari mana. Tapi setelah direnungkan ini mungkin pesan yang muncul dari alam bawah sadar. Tanda-tanda yang menyebutkan bahwa aku tidak perlu berlindung di belakang usia bahwa lemak di perut, paha dan pangkal lengan kian menebal. Sebab banyak juga perempuan yang lebih tua menjadi kapstock cantik dari baju-baju yang nyantel di tubuh mereka. Kalau aku merasa baik-baik saja, Indra malah senewen. Dia takut aku OR over dosis. Geli membayangkan bahwa aku yang biasanya OR it's so so, lalu masuk berita mengalami over dosis OR. Yah mana mungkin lah berlebihan, dalam 2 minggu timbangan cuma bergeser sekilo ke bawah. Namun yang penting adalah aku mempercayai insting sendiri. Dan instingku belum mengatakan bahwa porsi OR atau pergerakan tubuh sudah masuk ke tahap mengkuatirkan. Kadang-kadang memang capek. Hanya kalau dibawa istirahat sebenta lelah itu segara lenyap. Lagi pula tubuh manusia di rancang Allah sedemikian rupa sehingga kalau digunakan dan sering di latih, dengan sendirinya dia memberi panduan apa yang boleh dan tidak yang dilakukan kepadanya. singkatnya, if it is feels good, then it is good. Tapi kalau aku merasa sesuatu yang menyakitkan dari dalam tentu saja akan tahu diri. Serpong, 19 November 2009 --Evi
Lama-lama asyik juga menggunakan Twitter. Bisa mengungkapkan berbagai macam isi pikiran yang kalau mau bisa sampai beratus-ratus tiap hari. Sudah begitu Twitter terintegrasi pula ke new status facebook. Jadi tidak perlu klik berkali-kali, cukup menulis di Twitter maka secara otomatis status facebook kita ikut ter-update. Tidak seperti update blog yang menyediakan karakter tidak terbatas. Kadang-kadang persoalan ini membuat beberapa orang malas meng-update blog contain mereka karena merasa terintimidasi kalau hanya menuliskan beberapa kata saja. Cuma sayangnya, 140 karakter yang disediakan Twitter terlalu sedikit. Kecuali tujuan Twiiter hanyalah sebagai papan pengumuman yang berisi link, satu pokok pikiran kadang kurang leluasa untuk di rangkum kedalam 140 karakter. Facebook saja sudah menambah jumlah karakter untuk update status. Semoga tidak lama lagi akan disusul oleh Twitter. Serpong 19-11-09 --Evi
Habis dimasakin mie instant oleh Adit. Waktu disajikan di meja aku ngakak. Ini pasti sebentuk pembalasan dendam. Mienya cuma sedikit tapi sayurannya meriah: ada buncis, daun singkong rebus, wortel dan tomat. Membaca pikiranku dia berkata " iya mama gak udah cerewet ini mie emang penuh pesan sponsor". Memang air cucuran atap jatuhnya tidak kemana. Dulu sekali sebelum pandai melawan, sayuran merupakan menu wajib yang perlu Adit dan adiknya telan. Untuk urusan satu ini saya tuli oleh segala bentuk keberatan. Tidak masalah kalau rasanya sepat, tidak peduli jika tidak bisa lolos di tenggorokan atau go hell rasa tidak enak. Aku hanya mengenal satu kata, telan!. Jurus lidah besi begini kadang-kadang berhasil tapi sering pula gagal. Kalau sampai di ujung putus asa, sayur yang telah dipotong kecil-kecil terpaksa bersembunyi dibawah nasi, jadi si pemilik mulut tidak begitu ngeh dalam satu sendokan itu ada pesan sponsor. Rasa dari hasil karya Adit ternyata lumayan. Walau masih menggunakan bumbu yang terdapat dalam packing mie instant, dia menambahkan sedikit kecap ikan dan sedikit perasan jeruk limo. Yang terakhir ini merupakan ilmu yang dia peroleh dari sang papa. "Enak Ko" Kataku. " Sure! Kan dimasak dengan cinta.." Jawabnya cuek banget. Dan aku tahu, dia tidak bermaksud meledek dengan meniru kata-kata yang sudah puluhan tahun kuedarkan dalam rumah kami :) --Evi