Tentang otakku #fb

Pict0134
Di internet itu banyak bertebaran hal-hal gratis. Pernah bersua  pada satu situs yang menawarkan quiz kepribadian gratis. Mungkin karena gratis hasilnya menyebalkan :). Benaran, tidak sesuai harapan sama sekali. Padahal seperti kebanyakan manusia (terutama yang punya banyak kekurangan) selalu mengira diri lebih hebat dari keadaan sesungguhnya hehehe..   Hasil analisanya yang berasal dari 25 butir pertanyaan tersebut, menjabarkan banyak spektrum tentang kepribadian manusia yang bisa di compare dengan kepribadian sendiri. Lupa juga menyimpan hasil testnya guna mengungkap apa yang dikatakannya. Yang jelas, katanya, aku punya kemampuan mengingat hal-hal buruk. Pantas lah maka jadi ingat kala dia mengatakan bahwa aku suka bermimpi tapi tidak pernah menganggap penting sebuah impian. Aku menyukai miracles tapi selalu disabotase oleh rasionalitas.   Hayaaaa...Makjanggg...Benarkah begitu? Sedemikian ribetnya kah kerja otakku sendiri?

Tapi hal yang terakhir itu benaran membuat tercenung? Tentu saja aku menyukai mukjizat, akan kuberantemi orang yang mengatakan sebaliknya. Senantiasa mengharapkannya terjadi dalam hidup sebab dalam dunia bertekanan tinggi seperti ini betapa tidak tertahankannya hidup tanpa kehadirannya. Memang sih arang  dapat mukjizat besar (misalnya dapat mobil dari undian BCA:)), mukjizat2 kecil bertebaran di sepanjang koridor hidupku. Hanya saja memang tidak bisa diingkari, kala membiarkan imajinasi terbang meninggalkan bumi ada sesuatu yang berkata dari dalam, " mimpi kali yeeee..." Mungkin itu lah hasil olah otak rasionalku.

Kalau saja ini terjadi dalam rumah tangga, sepasang sepasang suami istri yang selalu melihat koin dari sisi berbeda, yang satu ingin ke utara sementara yang lain ke selatan, terbayang seperti apa rumah tangga mereka? Tapi analogi pertentangan otak terhadap rumah tangga tidak harmonis ini tampaknya tidak relevan juga. Suami istri tersebut dapat memadamkan neraka mereka dengan bercerai. Lah kalau situasinya terjadi dalam satu hemisphere utuh dalam satu kepala, gimana caranya membuang bagian yang tidak berguna?

Mestinya ada satu penjelasan mengapa otak sendiri mensabotase kerja segmen otak yang lain. Mungkinkah otak ini menyimpan sebuah trauma, kekecewaan yang dalam lalu meletaknnya di bawah alam sadar untuk sewaktu-waktu digunakan guna melindungi diri sendiri? Bisa jadi...
 
Kemungkinan yang lain adalah gara-gara aku dimasukan ke dalam kelompok vertebrata berotak kiri dominan. Maksudnya, otakku yang telah mengalami evolusi selama 4.5 juta tahun ini, dengan berat hanya 2 % dibandingkan berat tubuh tapi mengkonsumsi 20% dari total suplai oksigen , dianggap lebih tinggi kemampuan analisanya ketimbang kerja sistematisnya. Dengan kata lain aku lebih jago mengurung/memenjarakan aneka elemen dalam kepala ketimbang menghubungkannya satu sama lain. Contohnya kalau melihat bebek berenang di kolam, otakku hanya menghubungkan hewan tersebut dengan bebek panggang, gulai bebek cabe hijau, dan telur bebek untuk martabak telor.
 
Sementara temanku yang dominan di belahan kanan, mungkin akan menghubungkan bebek tersebut dengan Kemchicks di Kemang. Maksudku, pemilik supermarket yang diposisikan sebagai tempat belanja kalangan menengah ke atas tersebut dulunya mengawali bisnisnya dengan jualan telur bebek...Maka temanku berniat membuat peternakan bebek untuk mengawali karirnya sebagai kolektor gedung pencakar langit..
 
Sudah ah! Makin malam kok makin ngaco!

Selamat ulang tahun ke-17, Dit #fb

Baby
Tanggal
Img_2462
30 November 2009, Adit, sulungku genap 17 tahun. Perayaannya hanya di tingkahi pelukan hangat dari papa, mama dan Valdi. Melihat dari teman-teman perempuan Adit yang kebanyakan merayakan moment kedewasaan mereka di hotel-hotel mewah, amat bersyukur  dalam hati bahwa bahwa Adit anak lelaki. Tidak terbayang bagaimana repotnya jika bulan-bulan overload pekerjaan seperti ini harus diselipkan pula mempersiapkan pesta akil baliq" :)   Sebagai ujud dari rasa syukur bahwa Adit telah bujang, kami sekeluarga hanya memilih menikmati makan malam sedikit istimewa di sebuah restoran bagus. Selebihnya adalah mempercepat pengakuan kedewasaannya dengan segera membuatkan KTP, SIM dan bahkan sekarang dia sudah punya bank account sendiri. Every body is happy.   Menelusup keharuan kala mengingat detik-detik kelahirannya di suatu subuh 30 November 1992. Rasa tidak enak di perut sudah terasa sejak tanggal 28 pagi. Aku tenang-tenang saja karena menurut dokter Kayanto paling banter anakku lahir tanggal 5 Desember. Jadi aku  memilih membersihkan kebun rumah kontrakan kami tanpa memberi tahu ibu atau menelepon bapaknya ke kantor. Hanya dalam hati mulai sedikit deg2an, de2g bahagia tepatnya. Sambil membersihkan rumput aku terus membayangkan seperti apa wajah pengeran yang akan keluar dari tubuhku. Waktu itu aku punya satu pot mawar hybrid warna kuning dan diberi nama Queen Elizabeth oleh penemunya. Waktu menyentuh kelopaknya yang lebar dan lembut, ujung jariku seperti sudah menyentuh kulit si pangeran yang tampaknya sedang siap-siap mencari jalam keluar.   Mendekati magrib, kutemukan lendir dan bercak darah pada pakaian dalam, perut mulai serasa di putar-putar. Jarak rumah ibu dan tempat tinggal kami memang tidak begitu jauh, tapi takjub juga beliau sdh sampai lima belas menit kemudian setelah aku meneleponnya. " Masih jauh" Kata ibu begitu diperlihatkan tanda-tandanya. Pengalamannya sebagai veteran melahirkan  5 kepala membuat ibu amat tenang dan ketenangan itu juga menular kepadaku.   Hanya saja makin malam rasa sakitnya makin jadi. Rasanya seperti ingin ke belakang terus. Begitu di bawah kesana tidak ada yang keluar tapi rasa sakitnya menetap. Menurut theori dari Majalah Ayah Bunda, tahap pembukaan awal disertai rasa sakit akan muncul tiap  satu jam sekali, lalu makin pendek dan sampai rasa sakit itu menetap dan terus menerus. Saat kuperhatikan jam, rasa sakitku aneh, gak ada tahap-tahapan. Kadang 5 menit sekali, kadang 30 menit dan kadang lagi 1 jam. Tampaknya irama tubuhku kacau!   Waktu Indra pulang dari kantor dia memutuskan untuk masuk rumah sakit malam itu juga. Segala koper dan tetek bengek sudah siap jauh-jauh hari, maka tinggal angkat.   Sesampai di rumah sakit mengalami sedikit kecewa. Ini adalah kelahiran buah hatiku yang pertama, rasanya dunia harus ikut merayakan, tapi suster2 disana everything goes as usual. Mereka tidak berusaha menghubungi dokter Kayanto malah sibuk dengan tetek bengek urusan administrasi. Kemanjaan seorang calon ibu muda, memaksa suster setengah tua  mengusap-ngusap perutku dan penuh rasa simpati membuat pemeriksaan dalam. Seperti kata ibu, " masih jauh"   " Ya Allah kalau memang masih jauh mengapa mendatangkan sakit lebih awal? Ya mbok nanti saja, deket kelahiran, mules-mules itu gak enak tahu!"   Karena memang masih jauh, para suster ( setelah konsultasi dengan Dr. kayanto) menyuruh kami pulang saja dan balik esok harinya. Alah maaaaak..Tapi Indra tidak mau menanggung resiko, gimana kalau tiba-tiba malam pekat si jabang bayi tahu-tahu mrojol? Jadi kita putuskan untuk nginap saja di rumah sakit. Ibuku yang baik lalu diantar kan pulang oleh mantunya yang baik juga. Tapi aku wanti-wanti (setengah memerintah tepatnya), besok pagi setelah shalat subuh ibu harus kembali!   Tangal berganti ke 29. Pagi cerah. Pletok-pletok sepatu para pembesuk dan suster rumah sakit tidak mendatangkan romatisme sama sekali gara-gara terus disiksa rasa sakit. Jam sebelas suster kembali membuat pemeriksaan dalam, masih pembukaan dua. Ya allah butuh pembukaan berapa sih biar mules ini segera berlalu?   Untungnya Indra sudah mengajukan cuti "melahirkan" jauh-jauh hari. Hari itu semua keluharan, rengekan dan frustrasiku di tonjok sakit ditanggapinya dengan tenang. Alih-alih ikut gelisah dia menyuruh membayangkan wajah buah hati yang sebentar lagi akan datang. Guna mengalihkan perhatian dia juga menemaniku menelusuri lorong-lorong rs dan mengintip ke kamar para bayi. Terapi itu kadang berhasi tapi lebih banyak tidaknya. Aku kembali ke tempat tidur dan tampaknya ibu mulai "sebel" melihat kecengenganku hehehe...   Malam itu Dr. kayanto menelopon Indra. Menurut pembicaraan kalau besok pagi belum lahir juga maka akan diambil tindakan caecar. Setelah pembicaraan itu muka Indra jadi sendu, menghampiri dan mengusap perutku dan berbisik, " ayo sayang cepat keluar...Mama dan papa menunggumu dengan tidak sabar"   Hampir sepanjang malam itu kulewati dengan mata terbuka. Sekitar pukul dua pagi terasa cairan hangat meluncur begitu saja dari bawah tubuh. Suster segera membawaku ke ruang bersalin. Air ketubanku pecah dan Indra mengikuti dari belakang dengan setengah tersenyum. Menurut perjanjian dengan Dr. kayanto si bapak boleh mendampingi di detik-detik kelahiran anaknya, hanya sayangnya di larang bawa camera.   Sekalipun kontraksi sdh berjalan secara otomatis dan tidak bisa lagi dikendalikan oleh tarikan nafas, Adit ternyata masih ngotot berlama-lama di tempatnya. Mulutku sudah tidak bisa lagi di rem mengeluarkan teriakan-teriakan. Belakangan diberi tahu, ibu yang mendengar di luar menangis stress dan sedikit kecewa betapa tidak tabahnya si putri ke-2nya :)   Dokter Kayanto muncul pukul empat. Sudah lengkap dengan jubah hijau, penutup mulut dan sarung tangan karet.  Anehnya dia membawa pertanyaan, " ibu tahu gak siapa pengarang lagu Bengawan Solo?" Emang aku tampak kurang gaul, apa? Ya tahu lah!    Kejudesan dijawabnya dengan meletakan ke dua pahaku di kursi penyangga dan kasih instruksi sana-sini pada para suster, lalu melantunlah lagu Bengawan Solo. Sambil terus malafalkan asma Allah dalam hati, Bengawan Solo membawaku ke suatu tempat tenang dan damai. Rasanya ingin memeluk si dokter saat itu. Ketika saatnya tiba, dari belakang Indra ikut menyokong punggungku saat "ngeden", para suster ikut mendorong perut buncitku, sementara Dokter kayangto memberi aba-aba dengan hitungan sampai 3. Beberapa kali mencoba ternyata belum berhasil juga.

Ketenanganku terenggut kembali. Apalagi ketika dokter memerintahkan Indra  keluar ruangan dan menjelaskan bahwa aku sudah kehabisan tenaga dan air ketubahn sudah kering sama sekali maka akan diambil tindakan kecil. Di detik itu lah betapa Allah terasa begitu dekat. Sekalipun begitu aku merasakan kematian masih jauh, maka apa saja instruksi dokter kepada para suster aku ikuti dengan cermat.
 
Rupanya sejak tadi mereka sudah mempersiapkan mesin vacum di ruangan itu. Begitu aku ngeden kembali, mesin beraksi...crot..sebentuk bola menggelinding keluar dari tubuhku. Setelah itu terdengar jeritan dan dalam hitungan detik, keadaan masih telanjang, bergelimang lemak dan noda darah, dokter membuka sedikit penutup dadaku dan menelungkupkan Adit di sana.
 
Aku tidak menemukan kalimat yang pas untuk menjelaskan momen saat itu. Semua rasa sakit sudah hilang, tubuh ringan, serasa melayang dan tiba-tiba aku dihantam gelombang emosi. Maha besar Allah bahwa mahkluk seperti ini di proses dalam tubuhku? Aku tertawa tapi mata berair. Affair kami sudah di mulai sejak dia dalam kandungan, tapi begitu ujung jariku menyentuh tubuhnya yang licin, aku tahu bahwa dunia tidak akan pernah sama lagi.
 
Selamat ulang tahun Dit. Aku mungkin bukan mama terbaik, tapi Adit selalu bisa mengandalkan mama sebagai sumber untuk mendapatkan cinta tanpa syarat :)

--Evi Indrawanto 

Kalau harus memilih, pilih lah untuk bahagia

Mesra-1
" Fokus lah pada kelebihan mu dan bukan pada kekurangannya maka Isya Allah dunia akan melipatkan gandakan kelebihanmu itu"   Kalimat seperti ini mestinya lahir bersamaan  kelahirannya dengan fajar kemanusiaan kita. Hanya saja, walau begitu kunonya, baru akhir-akhir ini aku mempercayainya sepenuh hati. Tidak ada peristiwa khusus mengapa isi kalimat ini tiba-tiba begitu nancap di hati. Dia datang begitu saja. Seperti bunyi lonceng di kejauhan, berdenting saat terjaga di pagi hari, menghibur kala bertemu aneka persoalan selama menjalankan tugas sebagai ibu rt yang sekaligu pengusaha home industry.    Faktor usia pastinya salah satu penyebab. Hitungan waktu, lintasan pengalaman dan aneka peristiwa yang diwarnai senang-sedih silih berganti bisa jadi memaksa manusia untuk dewasa. Kedewasaan itu ternyata telah mematangkan berkat-berkat yang telah Allah SWT berikan sejak pembuahan kita pertama kalinya dalam rahim bunda.   Orang mengatakan bahwa hidup tidak selalu hitam-putih. Mungkin itu lah gunanya kehadiran wilayah abu-abu, menawarkan teritori pilihan sebebas-bebasnya. Hidup juga tidak dirancang Tuhan bernilai absolut. Dengan memberi kita imajinasi maka segalanya masuk ke konteks relativitas. Coba perhatikan, dunia ini amat ramah pada perempuan cantik, tapi nyata tidak semua perempuan cantik berbahagia. Begitu pula hidup jauh lebih mudah jika bank account dan asset kita dapat membeli apa saja yang bisa ditawarkan dunia, tapi nyatanya anak-anak Onasis  mati dalam penderitaan.

Jadi, jika ingin berbahagia, tentukan sendiri, putuskan sendiri, tidak perlu tengok kanan-kiri. Bukan tanpa sebab Tuhan Allah-nya semesta alam ini menanamkan perdambaah kebahagiaan dalam tiap sanubari insan-Nya. Dia melengkai kita dengan seluruh kemampuan untuk mencapainya. Kita mempunyai kekuatan untuk memilih kebahagiaan tersebut. Orang-orang, situasi dan peristiwa tertentu  mungkin akan mempengaruhi kita. Tapi yang jelas tidak satu manusiapun yang dapat memberikan kebahagian itu kepada kita. Bahagia itu adalah pilihan kita sendiri.

Cinta yang romantis, keluarga yang utuh, bisnis atau pekerjaan yang sukses, status dan kekayaan tentu saja mempengaruhi kesejahteraan batin seseorang. Itu karena dunia menganggap hal-hal tersebut penting. Untuk jangka lama hal tersebut juga akan membuat para pemilik segalanya ini memandang hidup ini dengan tidak "terlalu keras"! Tapi pernah mendengar kisah-kisah juga kan, betapa kehampaan batin itu mempengaruhi setiap orang?
 
Jadi, kalau harus memilih, pilih lah untuk bahagia.

Hidupku hari ini (22-11-09) #fb

Sambil santai-santai dan facebook-an, hari ini berhasil menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda sudah berminggu-minggu. Pertama membuat rekapitulasi penjualan kami sejak awal September. Setelah masuk data-datanya ke komputer dan melihat hasil akhir dan rata-rata, rasanya pengen nepuk dada ala king-kong. Hanya karena aku bukan kingkong dan pekerjaan ini memang seharusnya di kerjakan, impian menjadi king-kong di tunda dulu.   Terus aku punya beberapa buku yang diniatkan untuk disampul tapi tak kunjung di beri sampul. Sambil cekikan chatting dengan teman yang sdg gak bisa tidur di AS, minimal 2 buku ke sampul juga. Masih ada 15 lagi sih, tapi lumyan dari pada tidak sama sekali.   Sebelumnya aku sudah memasukan pakaian-pakaian kotor ke dalam mesin cuci. Teknologi memungkinkan  tidak perlu membilas cucian dengan mengucek-ngucek yang menghabiskan tenaga. Sekali masuk, giling, bilas dan cucian harum pun siap naik ke tiang jemuran.    Sore ini duduk kembali anteng duduk di muka kompu setiaku. Pengennya menulis sesuatu, mengeluarkan unek-unek yang beberapa hari ini mengganjal dan menimbulkan perasaan tidak enak, tapi aku perlu berpikir panjang untuk melakukannya. Seperti kata temanku, manusia melihat dunia ini melalui sejarah yang telah di tempuhnya.Sejarah hidup orang itu berbeda-beda. Jadi mustahil mengharapkan cara pandang sama walau yang kita bicarakan adalah benda yang sama. Kesimpulan : kalau idenya ingin menguap biar lah demikian. Mungkin itu lebih baik.   Tapi satu yang pasti, kebodohan itu amat menyebalkan! Seperti yang aku lakukan hari ini, membuang begitu saja sampah-sampah kertas yang kuanggap mengotori meja tanpa menelitinya satu-persatu. Setelah sampahnya diangkut beberapa jam yang lalu, baru ingat bahwa ada satu PO yang mestinya jadwal kirim besok tidak tampak lagi batang hidungnya entah dimana. Sambil mengomeli diri sendiri lalu kubongkar-bongkar map-map yang secara logika mustahil PO itu terselip disana.Namanya juga orang bodoh sedang kalap, apa saja bisa terjadi kan?   Akhirnya PO itu memang tidak bersua. Pasti sudah hancur lebur bersama ratusan kilo sampah lain di luaran sana. Besok Jadwal pengiriman ke perusahaan itu terpaksa tidak bisa di lakukan pada rit pertama. Aku harus mengontak bagian purchasing perusahaan itu terlebih dahulu agar mengirim copy PO melalui fax. Dan itu artinya ada yang akan ngomel-ngomel karena jadwal yang sudah diaturnya berantakan. Yah...Mau gimana lagi...   --Evi

Merasa baik-baik saja...

Akhir-akhir ini merasa ada yang berubah, merasa menerima kelimpahan energi. Seperti gadis remaja, diam mendatangkan gejala tubuh ngilu dan bawaannya ingin bobo saja. Mungkin kah sudah masuk kategori kecanduan oleh raga? Sebab ini tubuh merasakan kenikmatan luar biasa saat meregang dan melakukan pergerakan sistematis dan berpola yang disebut choreography itu? Tidak tahu lah! Yang jelas, untung sport center cuma punya kelas kali per hari. Kalu lebih dari itu mungkin akan kumasuki semua hehehe...   Awalnya entah dari mana. Tapi setelah direnungkan ini mungkin pesan yang muncul dari alam bawah sadar. Tanda-tanda yang menyebutkan bahwa aku tidak perlu berlindung di belakang usia bahwa lemak di perut, paha dan pangkal lengan kian menebal. Sebab banyak juga perempuan yang lebih tua menjadi kapstock cantik dari baju-baju yang nyantel di tubuh mereka.     Kalau aku merasa baik-baik saja, Indra malah senewen. Dia takut aku OR over dosis. Geli membayangkan bahwa aku yang biasanya OR it's so so, lalu masuk berita mengalami over dosis OR. Yah mana mungkin lah berlebihan, dalam 2 minggu timbangan cuma bergeser sekilo ke bawah.   Namun yang penting adalah aku mempercayai insting sendiri. Dan instingku belum mengatakan bahwa porsi OR atau pergerakan tubuh sudah masuk ke tahap mengkuatirkan. Kadang-kadang memang capek. Hanya kalau dibawa istirahat sebenta lelah itu segara lenyap. Lagi pula tubuh manusia di rancang Allah sedemikian rupa sehingga kalau digunakan dan sering di latih, dengan sendirinya dia memberi panduan apa yang boleh dan tidak yang dilakukan kepadanya. singkatnya, if it is feels good, then it is good. Tapi kalau aku merasa sesuatu yang menyakitkan dari dalam tentu saja akan tahu diri.   Serpong, 19 November 2009 --Evi

Twitter need more characters #fb

Lama-lama asyik juga menggunakan Twitter. Bisa mengungkapkan berbagai macam isi pikiran yang kalau mau bisa sampai beratus-ratus tiap hari. Sudah begitu Twitter terintegrasi pula ke new status facebook. Jadi tidak perlu klik berkali-kali, cukup menulis di Twitter maka secara otomatis status facebook kita ikut ter-update.    Tidak seperti update blog yang menyediakan karakter tidak terbatas. Kadang-kadang persoalan ini membuat beberapa orang malas meng-update blog contain mereka karena merasa terintimidasi kalau hanya menuliskan beberapa kata saja.   Cuma sayangnya, 140 karakter yang disediakan Twitter terlalu sedikit. Kecuali tujuan Twiiter hanyalah sebagai papan pengumuman yang berisi link, satu pokok pikiran kadang kurang leluasa untuk di rangkum kedalam 140 karakter.   Facebook saja sudah menambah jumlah karakter untuk update status. Semoga tidak lama lagi akan disusul oleh Twitter.   Serpong 19-11-09 --Evi

Semangkuk mie instant dengan pesan sponsor dan dimasak dengan cinta :) #fb

Habis dimasakin mie instant oleh Adit. Waktu disajikan di meja aku ngakak. Ini pasti sebentuk pembalasan dendam.  Mienya cuma sedikit tapi sayurannya meriah: ada buncis, daun singkong rebus, wortel dan tomat.   Membaca pikiranku dia berkata " iya mama gak udah cerewet ini mie emang penuh pesan sponsor".   Memang air cucuran atap jatuhnya tidak kemana. Dulu sekali sebelum pandai melawan, sayuran merupakan menu wajib yang perlu Adit dan adiknya telan. Untuk urusan satu ini saya tuli oleh segala bentuk keberatan. Tidak masalah kalau rasanya sepat, tidak peduli jika tidak bisa lolos di tenggorokan atau go hell rasa tidak enak. Aku hanya mengenal satu kata, telan!. Jurus lidah besi begini kadang-kadang berhasil tapi sering pula gagal. Kalau sampai di ujung putus asa, sayur yang telah dipotong kecil-kecil terpaksa bersembunyi dibawah nasi, jadi si pemilik mulut tidak begitu ngeh dalam satu sendokan itu ada pesan sponsor.   Rasa dari hasil karya Adit ternyata lumayan. Walau masih menggunakan bumbu yang terdapat dalam packing mie instant, dia menambahkan sedikit kecap ikan dan sedikit perasan jeruk limo. Yang terakhir ini merupakan ilmu yang dia peroleh dari sang papa.   "Enak Ko" Kataku. " Sure! Kan dimasak dengan cinta.."   Jawabnya cuek banget. Dan aku tahu, dia tidak bermaksud meledek dengan meniru kata-kata yang sudah puluhan tahun kuedarkan dalam rumah kami :)   --Evi