Miyabi, Gula Aren dan Mimpi...

Bintang porno Jepang berhasil menggoyang bumi Indonesia. Orang hiruk pikuk berkomentar tentangnya. Lembaga keagamaan dan pendidikan,  media massa, pegawai dan ibu rumah tangga, bahkan status pengguna Facebook dan Twitter bersatu padu mengantar suara.   Hebat memang Miyabi itu. Tidak butuh segala bentuk macam keahlian dan strategi seperti yang di lakukan marketer dan sales professional agar orang melirik produk dagangannya. Cukup di shoot beraksi di tempat tidur, biarkan orang-orang menonton, setelah itu minta diundang datang ke Indonesia. Dan orang Indonesia yang negaranya berlandaskan kepada pancasila yang didahului oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa, merasa perlu memperlihatkan jati diri bahwa negara mereka akan dikunjungi gadis semacam Miyabi.   Jadi kepikiran, kalau saja energi yang digunakan untuk membicarakan Miyabi itu di alihkan pada ngomongin gula aren apa jadinya bisnis saya ya? Tidak usah mendalam banget deh. Cukup omong-omong ringan seperti minum kopi dengan pemanis gula aren disamping lebih nikmat juga lebih sehat. Atau mereka menyumbang saran atau kalau bisa membuat artikel mendalam soal bagaimana caranya agar gula aren  di terima lebih banyak di negara Miyabi, faktor musim apa saja yang yang mempengaruhi produksi gula aren. Aku kira perbincangan akhirnya akan membuat orang yang menyebut Gula Merah untuk semua jenis gula berwarna coklat akhirnya mengerti bahwa sumber nira sebagai bahan baku membuat gula ini pantas di sebuat sebagai gula aren, gula kelapa, gula nipah atau gula tebu. Begitu pula dalam hal bentuknya, kalau seseorang menyebut gula semut itu bisa jadi terbuat dari aren, kelapa atau tebu...   Setelah itu apa? Setelah itu permintaan meningkat. Saat kami tidak sanggup menampung semua order, permintaan akan gula semut aren beralih kepada pengusaha lainnya. Mereka akan membuat penyadap nira dan perajin gula di dusun-dusun meningkatkan produksinya. Batang aren yang selama ini dibiarkan nganggur akan dipelihara. Anak-anak mereka yang memburuh di pabrik-pabrik di kota karena malu berprofesi sebagai penyadap dan perajin gula mungkin akan kembali ke kampung. Dan yang paling penting, pemerintah daerah seperti Propinsi Banten itu tidak punya alasan untuk tidak membuka kebun-kebun aren. Tidak seperti sekarang cuma bicara diatas kertas bahwa aren adalah salah satu produk unggulan daerah mereka.    --Evi Indrawanto  
Pict0002